Tampilkan postingan dengan label Sains dan Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains dan Teknologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2011

Berhitung dengan Kalkulator DNA



KOMPAS.com - Asam Deoksirobonukleat (DNA) tak cuma menyimpan kode rahasia makhluk hidup. Lulu Qian dan Erik Winfree, ilmuwan dari California Institute of Technology di Pasadena, AS menggunakan DNA untuk merancang kalkulator DNA yang juga sering disebut kalkulator molekuler atau komputer DNA.

Ada 130 untai DNA yang digunakan untuk menggantikan chip silikon. DNA berfungsi sebagai logic gates yang memproses sinyal yang masuk dengan hukum sederhana. Sinyal yang masuk dan keluar pun terbuat dari DNA, bukan pulsa elektrik.

Kalkulator DNA yang dibuat Qian dan Winfrey merupakan perbaikan dari sistem komputer DNA yang telah dikembangkan sejak 1990. Kalkulator DNA ini 5 kali lebih kuat dibandingkan sebelumnya, memakai sistem yang lebih fleksibel, sehingga berprospek untuk dikembangkan lanjut di masa depan.

Qian dan Winfrey mengembangkan kalkulator untuk menghitung akar kuadrat bilangan hingga 15 dan membulatkan hasilnya ke bilangan bulat terdekat. Proses penghitungannya cukup rumit, melibatkan kode bilangan biner dan sistem komunikasi kimia sehingga bisa menampilkan hasilnya.

Memakai kalkulator DNA untuk menghitung akar kuadrat cuma demo kemampuan. Muaranya, menurut Winfree, "Jika anda meminta sistem kimia untuk mengerjakan hal asing seperti menghitung akar kuadrat 4 digit bilangan biner, maka Anda mungkin bisa menggunakannya untuk hal lain."

Andrew Ellington, pakar biokimia dari University of Texas telah berpikir bagaimana cara mengaplikasikan kalkulator atau komputer DNA yang dikembangkan Qian dan Winfree untuk mendiagnosa malaria. "Kita bisa melihat cara yang dipakai Qian dan Winfree, lalu mendesainnya," katanya.

Tapi, Martyn Amos, pakar komputasi DNA dari Manchester Metropolitan University mengatakan, sistem ini masih terbatas sebab bahkan membutuhkan 10 jam untuk menghitung akar kuadrat. "Tantangan terbesar adalah mengaplikasikan konstruksi ini untuk bekerja di sel hidup," tambah Amos.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/03/17552510/Berhitung.dengan.Kalkulator.DNA

Alat Penyusut Benda Buatan China



KOMPAS.com - Tim ilmuwan yang dipimpin Wei Xiang Jiang dan Tie Jun Cui dari Southeast University, Nanjing, China, baru-baru ini memublikasikan alat yang bisa menyusutkan benda padat hasil studi mereka. Inovasi tersebut diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal ilmiah Applied Physics Letters.

Namun, bukan menyusutkan secara fisik. "Alat ini dapat menyusutkan benda secara virtual," kata Cui. Perangkat yang bekerja pada frekuensi gelombang mikro ini dapat mengelabui radar maupun alat pendeteksi elektromagnetik lainnya sehingga menjadikannya berpotensi untuk diaplikasikan oleh pihak militer.

Para ilmuwan membuat alat penyusut menggunakan metamaterial yang juga digunakan dalam pengembangan jubah tembus pandang. Pada alat ini, metamaterial digunakan untuk membuat delapan cincin konsentris masing-masing setinggi 12 milimeter. Kemudian mereka meletakkan sebuah benda, misalnya sendok, di tengah cincin tersebut.

Saat gelombang cahaya menyebar melalui alat penyusut, gelombang depan melengkung dan panjang gelombangnya dikompresi. Ketika cahaya mencapai bagian tengah lingkaran, panjang gelombang terdekompresi sehingga bagi orang yang melihat dari sisi luar alat penyusut, cahaya yang termanipulasi menciptakan ilusi benda dengan bentuk yang sama dengan benda sesungguhnya, hanya saja berukuran lebih kecil.

"Alat ini dirancang menggunakan transformasi optik yang membuat benda di ruang nyata dan ruang maya tampak sama," jelas Cui. Pada alat rancangan mereka, benda nyata adalah benda yang berukuran besar sedangkan benda virtual berukuran lebih kecil.

Para ilmuwan itu juga menjelaskan, karena proporsi beberapa benda bergantung pada ukurannya, maka alat penyusut buatan mereka ini dapat menampilkan benda virtual berukuran kecil yang dalam kenyataannya tidak ada.

Selain itu, metode yang digunakan untuk mengembangkan alat penyusut ini juga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk merancang dan mewujudkan perangkat ilusi lainnya yang dapat dapat mengubah beberapa parameter lain dari sebuah benda. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/12/19461829/Alat.Penyusut.Benda.Buatan.China

Teknologi Baterai Isi Cepat



Profesor Paul Braunthe (tengah) memimpin tim peneliti Xindi Yu (kiri) dan Huigang Zhang.

KOMPAS.com - Baterai akan dapat diisi dengan cepat tanpa mengurangi kapasitasnya. Tim Dr. Paul Braun dari Department of Materials Science and Engineering, University of Illinois, Amerika Serikat sedang mengembangkan struktur nano tiga dimensi yang memungkinkan hal itu.

Sekarang ini setiap perangkat elektronik memiliki kekurangan utama yakni keterbatasan baterai. Perkembangan teknologi baterai bergerak lebih lambat ketimbang perangkat yang disokongnya. "Sebagian besar baterai menyimpan sejumlah energi yang cukup, tapi tidak dapat menerima energi dengan cepat. Baterai yang kami kembangkan, bisa melakukan keduanya," kata Braun.

Pengisian daya baterai dalam waktu singkat akan memudahkan untuk memecahkan masalah krusial seputar ketergantungan perangkat elektronik terhadap baterai, apalagi bagi orang-orang yang memiliki pola aktivitas bergerak dan tidak bisa mengisi ulang sampai penuh.

Lapisan tipis dalam baterai 3D ini memungkinkan ion secara cepat mengirim elektron sehingga energi dapat diserap dan disalurkan. Braun melakukan modifikasi pada bagian daerah kontak antara elektrolit dan elektrode pada baterai, menggunakan teknik elektrodeposisi.

Dari segi biaya, boleh dibilang memakan biaya rendah dan bisa diproduski dalam skala besar. Sejauh ini jenis baterai yang diteliti adalah baterai lithium-ion dan nickel-metal hydride (NiMH). Namun para ilmuwan yakin bahwa temuan baterai 3D mereka bisa diterapkan pada jenis baterai lainnya.

Nantinya teknologi ini bakal memungkinkan mengisi ulang baterai ponsel selama beberapa detik, baterai laptop cukup dalam beberapa menit, dan bahkan, baterai kendaraan listrik hanya membutuhkan waktu kurang lebih sama dengan waktu isi bensin pada kendaraan konvensional. (National Geographic Indonesia/Gloria Samantha)

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/30/23243335/Teknologi.Baterai.Isi.Cepat

Pesawat Masa Depan Berdinding Transparan






LONDON, KOMPAS.com - Bentuk pesawat masa depan mungkin menyediakan suasana kabin yang lebih alami dengan pencahayaan langsung dari luar. Produsen pesawat Airbus mengungkap konsep pesawat futurtistik yang menggunakan dinding kabin transparan semacam itu.

"Riset yang kami lakukan menunjukkan bahwa pada tahun 2050, penumpang berharap mendapat pengalaman melakukan perjalanan dengan nayaman sekaligus tetap peduli dengan keadaan lingkungan. Konsep kabinnya dirancang sesuai pemikiran seperti itu," kata Charles Champion, Engineering Executive Vice President di London, Senin (13/6/2011).

Dengan kabin transparan, semua penumpang dapat menikmati pemandangan luar pesawat lebih leluasa. Tidak asal transparan, karena dindingnya bisa berubah-ubah sesuai kondisi tingkat pencahayaan di luar karena menggunakan material membran cerdas. Dindingnay bisa mengatur paparan sinar Matahari sehingga suhu dalam ruangan bisa diatur stabil.

Pesawat yang mungkin baru diproduksi tahun 2050 itu juga dilengkapi fasilitas hiburan yang interaktif dan teknologi yang saat ini mungkin baru angan-angan. Misalnya, game yang berupa hologram di depan penumpang.

Desainer Airbus juga yakin, saat itu penumpang bahkan bisa bermain golf di dalam kabin pesawat. Tentu saja bukan bermain dalam arti sesungguhnya, namun secara virtual di salah satu bagian yang dirancang seperti sebuah lapangan golf. Pada kesempatan lain, tempat yang sama bisa berubah menjadi ruangan meeting sesuai kebutuhan penumpang.

Ada juga ruangan khusus untuk bersantai yang dilengkapi fasilitas pencahayaan yang memperbaiki mood, aromaterapi, fasilitas pijat, dan udara segar dengan kandungan zat antioksidan untuk membantu penumpang rileks.

Yang menarik, pesawat ini juga mengusung teknologi hijau antara lain memanfaatkan energi tebarukan dengan mengubah panas tubuh penumpang menjadi sumber energi bagi fasilitas hiburan yang tersedia buat setiap penumpang. Teknologi dalam pesawat ini juga menggunakan bahan bakar sangat efisien, rendah emisi, dan pengolahan sampah yang efektif.

Secara keseluruhan, kabin pesawat rancangan Airbus meniru konsep tulang burung. Strukturnya seperti tulang burung yang membuatnya bisa terbang dengan sangat efisien. Nah, dengan konsep pesawat semacam itu, perjalanan mungkin bukan sekadar pindah dari satu tempat ke tempat lain melainkan pengalaman yang tak terlupakan. Tunggu saja pesawat ini jadi kenyataan.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/14/18581469/Pesawat.Masa.Depan.Berdinding.Transparan

Kucing Juga Bisa Menggonggong



KOMPAS.com - Seekor kucing terekam kamera saat mengeluarkan suara seperti anjing menggonggong. Ahli perilaku hewan Nicholas Dodman menjelaskan kejadian tersebut secara ilmiah.

Menurut Dodman, susunan laring, trakea, dan diafragma kucing cukup mirip dengan susunan pada anjing. "Saat beroperasi pada kondisi tertentu, kucing bisa menghasilkan suara mirip gonggongan," jelas Dodman yang juga profesor di Cummings School of Veterinary Medicine di Tufts University.

Gonggongan tersebut, seperti dijelaskan Dodman, diakibatkan aliran udara yang tiba-tiba di saluran udara. "Kucing yang terlalu gembira bisa menghasilkan suara itu. Mirip dengan meong yang dipaksakan," katanya.

Kucing tersebut juga kemungkinan belajar mengeluarkan suara gonggongan dari anjing. "Bisa saja menirukan suara yang sering didengarnya," kata Dodman kepada Life's Little Mysteries.

Dalam video yang dilihat lebih dari 4 juta kali di YouTube, kucing itu mengeluarkan suara seperti gonggongan ke arah jendela. Saat melihat pemiliknya merekam, kucing kembali mengeluarkan suara meong.(National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)



Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/30/23351379/Kucing.Juga.Bisa.Menggonggong

Andai Manusia Punya Mata seperti Burung



KOMPAS.com - Para peneliti di Yale University dan University of Cambridge menemukan bahwa penglihatan seekor burung jauh lebih berwarna daripada penglihatan milik manusia. Dalam studi peneliti menyebutkan perbandingan warna yang direkam sistem penglihatan burung jauh lebih variatif. Bahkan kalau dibandingkan dengan mata burung, bisa dikatakan manusia buta warna.

Selama ini diketahui pula kalau dalam masa jutaan tahun lamanya bulu burung mengalami evolusi warna, dari warna yang cenderung membosankan berubah ke warna-warna terang. Hal tersebut terjadi ketika burung secara bertahap mampu menciptakan sejumlah pigmen dan struktur warna baru.

"Burung mampu memiliki kombinasi warna yang indah yang dihasilkan dari pigmen-pigmen melanin," demikian dituliskan dalam laporan penelitian yang terbit di jurnal Behavioural Ecology tanggal 23 Juni 2011.

Sayangnya, tidak semua warna ada pada burung. Warna bulu burung hanya mewakili sebagian kecil dari seluruh warna yang dapat burung lihat.

"Warna yang ditampilkan burung terbatas hanya 26 hingga 30 persen dari seluruh warna yang mampu mereka lihat," kata Mary Caswell Stoddard, peneliti dari Cambridge.(National Geographic Indonesia/Gloria Samantha)

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/07/01/00410984/Andai.Manusia.Punya.Mata.seperti.Burung

Manusia Bisa Melihat Medan Magnet



KOMPAS.com - Tanpa disadari, manusia sebenarnya bisa melihat medan magnet Bumi karena adanya suatu senyawa dalam mata. Ada kemungkinan, nenek moyang manusia dulu punya kemampuan tersebut.

Sebuah studi menunjukkan bahwa ada kemungkinan protein bernama cryptochrome muncul pada retina. Protein tersebut banyak didapati pada hewan dan tumbuhan sehingga beberapa spesies bisa menggunakan medan magnet Bumi untuk melakukan navigasi.

Elektron dalam molekul cryptochrome saling terkait. Medan magnet Bumi menyebabkan elektron bergoyang. Reaksi kimiawi untuk merespons goyangnya elektron tersebut membuat burung dapat melihat medan maget dalam warna-warni.

Para peneliti sebelumnya mengira kalah cryptochrome tidak memiliki banyak keuntungan bagi manusia sehingga tidak dapat mengenali medan magnet seperti burung. Karenanya, manusia butuh patokan atau perangkat GPS untuk mengetahui arah.

Sangkaan ini yang sepertinya harus diubah setelah para ahli saraf dari University of Massachusetts melakukan penelitian. Mereka mengambil cryptochrome dari manusia dan memberikannya pada lalat buah yang kehilangan kemampuan melihat medan magnet. Hasilnya, seperti dilaporkan Wired Science, lalat buah kembali memiliki kemampuan melihat medan magnet.

Sayangya pada manusia, cara kerja cryptochrome tidak seperti pada lalat. "Kami tidak tahu apakah kerja molekul itu sama pada retina manusia. Tapi kemungkinan itu ada," kata Steven Reppert, ahli saraf dari University of Massachusetts. Saat ini ilmuwan mengetahui bahwa cryptochrome pada manusia berfungsi sebagai jam molekul, bukan sebagai kompas.

Tapi para peneliti menduga bahwa nenek moyang manusia terbantu dengan adanya protein tersebut untuk menentukan arah. Jika suatu saat para peneliti berhasil mengembalikan kemampuan tersebut... selamat tinggal perangkat GPS. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/07/01/00515284/Manusia.Bisa.Melihat.Medan.Magnet

"Bilangan Keramat" Baru dalam Matematika



KOMPAS.com - Matematika kini punya bilangan keramat baru, yakni 6,28. Bilangan keramat ini diperkenalkan oleh Bob Palais pada tahun 2001 sebagai pengganti 3,14 atau Pi yang biasa dikenal dalam perhitungan keliling dan luas lingkaran. Tahun lalu, bilangan keramat baru itu resmi dinamai "Tau" dan tanggal 28 Juni diperingati sebagai "Hari Tau".

Kalau Pi adalah rasio antara keliling lingkaran dan diameternya, 6,28 atau Tau adalah rasio antara keliling lingkaran dan jari-jarinya. Bilangan keramat itu dinilai lebih sakti daripada Pi sehingga dinobatkan sebagai pengganti. Bila bilangan keramat tersebut digunakan, beberapa konsep matematika menjadi lebih sederhana sehingga mudah dimengerti.

Kevin Houston, pendukung Tau dan matematikawan dari University of Leeds, Inggris, menerangkan dalam video di YouTube tentang kelebihan Tau. "Ketika mengukur sudut, matematikawan tidak menggunakan derajat, tetapi radian. Ada 2Pi radian dalam satu lingkaran. Ini berarti seperempat lingkaran setara dengan 1/2Pi. Ini berarti, seperempat setara dengan setengah. Ini gila," katanya.

"Mari kita pakai Tau. Seperempat lingkaran sama dengan seperempat Tau. Seperempat ya setara dengan seperempat. Bukankah ini lebih mudah untuk diingat? Demikian juga, tiga perempat lingkaran juga sama dengan tiga perempat Tau. Hal ini akan mencegah pelajar matematika, fisika dan teknik mengalami kesalahan konyol," terang Houston.

Dalam artikel berjudul "Pi is Wrong" di mana bilangan 6,28 diperkenalkan tahun 2001, Palais mengungkapkan bahwa selama ribuan tahun, manusia telah memfokuskan pada bilangan matematika yang salah. "Peluang untuk menarik pelajar dengan penyederhanaan yang natural dan cantik telah membawa ke latihan yang membingungkan dalam latihan serta dogma," tulis Palais.

Bila ternyata malah membuat bingung, haruskah Pi dihilangkan? Dikutip oleh Life Little Mysteries, Livescience, Rabu (29/6/2011), Houston berkomentar, "Pi tak harus dihilangkan. Saya memang pendukung Tau, tapi bukan anti Pi. Dengan demikian, siapa pun bisa memakai Pi jika mereka melakukan penghitungan yang melibatkan setengah Tau."

Bagi para guru matematika, konsep Tau juga bisa mulai diperkenalkan. Apalagi, berdasarkan penelitian yang dilakukan Palais, terbukti bahwa Tau berhasil meningkatkan kemampuan pelajar dalam mempelajari matematika, terutama dalam konsep geometri dan trigonometri di mana faktor 2Pi lebih sering digunakan.

Tau sendiri dipilih sebagai simbol bilangan keramat baru dalam matematika secara independen oleh fisikawan dan matematikawan penulis "The Tau Manifesto", Michael Hart dan pakar informasi asal Denmark, Harremoës. Tau dipilih karena kemiripannya dengan Pi sehingga cocok dengan ide beralih ke Tau.



Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/30/22140717/Bilangan.Keramat.Baru.dalam.Matematika

Pesawat Elektrik Siap Terbang Tahun 2035



VoltAir, pesawat dengan teknologi propulsi elektrik dan menghasilkan emisi nol.

KOMPAS.com — Banyak konsep pesawat masa depan ditampilkan di Paris Air Show, Perancis, yang berlangsung pada minggu lalu. Salah satu yang sangat inovatif adalah VoltAir, pesawat dengan teknologi propulsi elektrik dan menghasilkan emisi nol.

Kuat dan efisien, pesawat itu punya sumber daya dari sepasang baterai li-ion canggih di bawah "hidung"-nya, yang mengirimkan daya ke sepasang co-axial, baling-baling yang berputar di bagian belakang pesawat. VoltAir didesain tak seberisik pesawat konvensional.

Ketika pesawat mendarat, baterai mudah dicopot dan diganti yang baru, jadi mengurangi kompleksitas. Sumber dayanya pun tak semahal bahan bakar jet. Meski desain pesawat takkan jauh beda dengan saat ini, tetapi badan pesawat akan dibuat dari bahan komposit, jadi lebih kuat dan ringan. Drag pesawat akan dikurangi dengan curling wing tips seperti pada Boeing 787.

Karena VoltAir akan berbasis pada high temperature superconducting (HTS) material, pengembangan pesawat secara serius belum bisa dilihat dalam waktu dekat. Namun, pembuat pesawat EADS mengatakan, konsep ini akan menjadi kenyataan tahun 2035.

"VoltAir adalah konsep riset jangka panjang, bukan pendekatan komersial jangka pendek. Riset kami melihat masa depan dan bisa berguna pada banyak hal," kata Jean Botti, Chief Technical Officer EADS.

Botti mengatakan, saat ini EADS tengah memacu riset yang mendukung realisasi pesawat itu untuk menemukan ide baru. Muaranya adalah pada terwujudnya propulsi elektrik tanpa emisi yang lebih canggih.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/29/09211572/Pesawat.Elektrik.Siap.Terbang.Tahun.2035

Pesawat Tanpa Sayap Terbang Secepat Jet



KOMPAS.com — Firma asal Austria, Austrian Innovative Aeronautical Technology atau IAT21 menunjukkan pesawat inovasi terbaru buatannya dalam ajang Paris Air Show.

Pesawat yang dinamai D-Dalus itu menarik karena didesain tak memiliki sayap dan rotor, tetapi diklaim mampu terbang secepat jet dan tak banyak menimbulkan suara bising.

Mesin D-Dalus menggunakan 4 turbin yang berputar berlawanan untuk propulsi, masing-masing mencapai 2.200 rpm. Tiap turbin memiliki sudut serangan yang berbeda yang menurut desainernya memungkinkan pendorong utama ditembakkan ke berbagai arah. Ini memungkinkan pesawat diluncurkan secara vertikal, melayang, serta berotasi ke segala arah, bahkan ke atas.

Dalam laman situsnya, IAT21 mengungkapkan bahwa pesawat ini memiliki sekian teknologi baru yang telah dipatenkan. Beberapa di antaranya adalah bola bebas gesekan pada G force dan sistem yang menjaga propulsi sehingga berada pada kondisi equilibrium sehingga memungkinkan untuk memulihkan stabilitas secara cepat saat terbang.

Sejauh ini, D-Dalus masih berupa prototipe. Prototipe yang dikembangkan selama 3 tahun itu memiliki turbin sepanjang 1,5 meter dan bisa mengangkut muatan seberat 70 kilogram. D-Dalus telah menjalani tes awal dengan menggunakan mesin 120 bhp KTM dan uji terbang, tetapi hanya di laboratorium dekat Salzburg.

D-Dalus sebenarnya didesain untuk mendukung aktivitas pencarian dan penyelamatan, pemantauan bencana, dan pengintaian. Meski demikian, ada kemungkinkan untuk mengembangkannya menjadi pesawat pengangkut penumpang.

Saat ini, IAT21 tengah bekerja sama dengan Cranfiled University, Inggris, untuk mengembangkan pesawat dengan motor lebih kuat, lambung lebih besar, sistem kontrol yang lebih baik, serta mengupayakan sertifikat terbang.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/26/18031142/Pesawat.Tanpa.Sayap.Terbang.Secepat.Jet

Jam Raksasa Dirancang Awet 10.000 Tahun



Jam raksasa The Long Now X Foundation dirancang tahan 10.000 tahun.

KOMPAS.com — Tahun 1989, inventor berkebangsaan Amerika Serikat (AS), Danny Hills, memiliki ide untuk membuat jam yang mampu bertahan selama 10.000 tahun. Tahun 1995, ia memublikasikan idenya dalam sebuah artikel di Wired.

Sekian lama, ide itu terpendam, tak terealisasikan. Hingga akhirnya Jeff Bezos, pendiri Amazon, berminat mewujudkan ide itu menjadi kenyataan. Ia menanam investasi sebesar 42 juta dollar AS. Kini, dengan Staurt Kendall sebagai salah satu yang berperan dalam konstruksi, jam itu tengah dibangun dan nantinya akan berada di pegunungan wilayah Sierra Diablos, Texas.

Bezos mengatakan bahwa jam ini akan menjadi ikon pemikiran jangka panjang dan mengajak orang untuk berpikir tentang masa depan. "Peradaban akan jatuh bangun. Sistem pemerintahan baru akan muncul," katanya. Lebih lanjut, ia mengatakan, "Anda tak bisa membayangkan masa depan. Kita mencoba untuk membuat jam ini melaluinya."

Perusahaan Kendall, Seattle Solstice, yang menjadi bagian dari proyek ini mengatakan, sangat kagum dengan ide yang dimiliki Hills. Menurut dia, pembuatan jam yang bisa bertahan selama 10.000 tahun ini memiliki visi yang sama dengan piramida Mesir Kuno.

Jam nantinya akan memiliki ketinggian 200 kaki atau sekitar 60 meter dan akan berada di bawah tanah sedalam 500 kaki atau 150 meter. Tahun ini, ekskavasi dimulai di wilayah tempat jam ini nantinya akan diletakkan di bawah tanah. Lubang sedalam 500 kaki telah digali. Sementara, pembuatan nantinya juga akan dibantu oleh platform robot seberat 2,5 ton.

Di tempat jam ini diletakkan, akan dibuat 5 ruangan yang digunakan untuk peringatan 1 tahun, 10 tahun, 100 tahun, 1.000 tahun, dan 10.000 tahun. Hanya bagian 1 tahun dan 10 tahun yang akan dibangun saat ini, sementara bagian yang dibiarkan dibangun oleh generasi mendatang.

Jam ini akan berdetak setiap satu tahun, memiliki jarum abad yang akan bergerak maju setiap 100 tahun dan 'ayam' yang akan muncul setiap satu milenium. Di saat-saat tertentu, jam akan memainkan sebuah melodi yang didesain takkan diulang dalam kurun waktu 10.000 tahun.

Jam mampu menggunakan energi yang didapatkan dari perbedaan panas siang dan malam. Jadi, selama matahari tetap terbit dan terbenam, jam ini bisa bekerja. Namun, akan lebih baik dan akurat jika ada pengunjung yang datang dan memutar roda yang ada di jam untuk menyesuaikan waktu.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/27/17534092/Jam.Raksasa.Dirancang.Awet.10.000.Tahun

Jumat, 10 Juni 2011

Teka Teki "3n+1" Mungkin Terpecahkan



KOMPAS.com — Teka teki matematika yang belum ditemukan jawabannya selama 74 tahun sebentar lagi mungkin akan terpecahkan. Adalah matematikawan dari Universitas Hamburg, Gerhard Opfer, yang mengklaim telah menemukan solusinya.

Teka teki matematika itu yang bernama Collatz Conjecture atau "3n+1" itu diajukan oleh Lothar Collatz pada tahun 1937. Teka teki itu melibatkan operasi bilangan bulat yang dilambangkan "n". Singkatnya, ada dua syarat yang berlaku dalam Collatz Conjecture. Jika bilangan bulat (n) adalah bilangan genap, maka dibagi dua (n/2) dan jika ganjil maka dikalikan 3 kemudian ditambah 1 (3n+1).

Nah, dalam Collatz Conjecture diungkapkan, jika operasi terus dilakukan berulang kali, berapa pun angka yang dipilih untuk memulainya akan selalu didapatkan angka 1 sebagai hasilnya. Verifikasi telah dilakukan hingga angka 5,76 x 10 (18). Namun, tanpa pembuktian matematis yang tepat, selalu ada kemungkinan bahwa angka yang sangat besar akan melenceng dari "hukum" ini. Pembuktian matematis inilah yang telah dimiliki oleh Opfer. Ia menuliskannya dalam paper yang kini telah masuk ke jurnal Mathematics of Computation untuk ditinjau ulang sebab bisa saja pembuktiannya tak tepat.

Nah, apakah puzzle matematika ini nantinya akan benar-benar terselesaikan? Kita tunggu saja. Sementara menunggu, mungkin Anda bisa mencoba mengoperasikan angka berdasarkan Collatz Conjecture.

Coba ambil angka 6. Karena 6 genap, maka dibagi 2, hasilnya 3. Nah, 3 adalah bilangan ganjil, maka dikali 3 dan ditambah 1, hasilnya 10. Lalu, 10 dibagi 2 karena bilangan genap, hasilnya 5. Kemudian, 5 dikali 3 dan ditambah 1, hasilnya 16. Angka 16 dibagi 2, hasilnya 8. Kemudian 8 dibagi 2 hasilnya 4 dan 4 dibagi 2 lagi hasilnya 2. Angka 2 adalah bilangan genap, maka dibagi 2 lagi dan hasilnya 1. Nah, jika diurutkan, maka deretannya adalah 6, 3, 10, 5, 16, 8, 4, 2, 1. Untuk angka 6, berarti terbukti kebenarannya. Anda bisa mencobanya dengan mengambil angka lain. Mau lebih menantang, ambil angka yang besar.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/08/11405342/Teka.Teki.3n1.Mungkin.Terpecahkan

Mencipta Cahaya dari Ketiadaan

KOMPAS.com - Sekelompok ilmuwan dari Chalmers University of Technology di Gothenburg, Swedia berhasil mencipatakan cahaya dari ketiadaan. Mereka menciptakan cahaya di ruang hampa, sebuah ruang yang selama ini dipercaya benar-benar kosong. Minggu depan, para ilmuwan tersebut akan mempresentasikan hasil penelitiannya di konferensi di Padua, Italia. Saat ini, paper yang belum ditinjau kembali sudah diunggah ke situs arXiv.org.

Dasar teori yang digunakan dalam penelitian ini memang rumit, namun sangat menarik untuk disimak. Berdasarkan publikasi di webiste Nature pekan lalu, penelitian ini berpusat pada teori mekanika kuantum yang menyatakan bahwa ruang hampa tidaklah benar-benar kosong, tetapi terdiri atas partikel yang hanya eksis dalam waktu singkat, disebut partikel virtual.

Jika dua buah cermin kecil ditempatkan sangat berdekatan di ruang hampa, maka jumlah partikel virtual di antara 2 cermin akan menjadi lebih rendah daripada di luarnya. Sebagai konsekuensinya, akan tercipta gaya tarik antar cermin yang mendekatkannya satu sama lain. Gaya ini bisa digunakan untuk menghasilkan partikel "nyata" yang dalam konteks cahaya disebut foton.

Selama puluhan tahun, ilmuwan mempercayai bahwa efek yang sama bisa dilakukan dengan menggunakan satu cermin yang digerakkan. Dengan langkah itu, cermin bisa menyerap energi dari partikel virtual dan mengemisikannya lagi dalam bentuk partikel "nyata". Tapi, langkah ini hampir tidak mungkin sebab kecepatan gerak cermin disyaratkan mendekati kecepatan cahaya.

Dalam eksperimen membuktikan teori tersebut, peneliti bernama Per Delsing dan rekannya menyiasati ketidakmungkinan dengan menggunakan perangkat dinamakan Superconducting Quantum Interference Device (SQUID) yang sangat sensitif terhadap medan magnet. Peneliti kemudian 'melewatkan' medan magnet sehingga SQUID yang berfungsi seperti cermin bergerak dengan kecepatan 5 persen kecepatan cahaya.

Hasilnya, foton cahaya benar-benar tercipta. Berdasarkan analisa, frekuensi gelombang cahaya yang tercipta adalah setengah frekuensi gerakan SQUID. Meski paper-nya belum ditunjau ulang, kalangan ilmuwan memuji keberhasilan ini. Seperti yang dikatakan pakar fisika eksperimental Harvard University, Frederico Capasso, "Ini adalah kemajuan besar."

Karena jumlah foton cahaya yang tercipta lewat eksperimen ini masih sedikit, aplikasi hasil eksperimen ini pun masih di awang-awang. Tapi, dilansir di Physorg.com, menyatakan, jika terbukti berhasil, maka hasil eksperimen ini bisa membantu menemukan sesuatu yang lebih berguna, misalnya menghasilkan energi di ruang hampa sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendukung penjelajahan semesta.

Tabel Periodik Ditambah Dua Unsur Baru



KOMPAS.com - Tabel periodik punya dua anggota baru, unsur 114 dan 116. Keduanya merupakan unsur kimia terberat. Unsur 114 memiliki berat 289 satuan massa atom, sedangkan 116 memiliki berat 292 satuan massa atom.

Kedua unsur sebetulnya sudah ditemukan lebih dari 10 tahun--114 ditemukan tahun 1999, 116 ditemukan tahun 2000. International Union of Pure and Applied Chemistry dan International Union of Pure and Applied Physics baru memasukkannya sekarang setelah melalui berbagai pembuktian.

Saat ini, 114 dan 116 disebut ununquadium dan ununhexium. Akan tetapi, para penemu yang berasal dari Rusia mengajukan nama "flerovium" untuk 114 diambil dari nama fisikawan nuklir Georgy Flyorov. Unsur 116 diusulkan diberi nama "moscovium" yang berasal dari Moscow Oblast. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/08/00053940/Tabel.Periodik.Ditambah.Dua.Unsur.Baru

Jumat, 03 Juni 2011

Sepeda Pembangkit Listrik ala Kendal



Median dan sepeda pembangkit listrik ciptaannya

KENDAL, KOMPAS.com — Pada masa lalu sepeda onthel bisa menghasilkan tenaga listrik dengan adanya dinamo yang digerakkan putaran roda. Warga Desa Kedungsuren, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kendal, Jawa Tengah, mencoba merekonstruksi teknologi sejenis, tetapi bisa menghasilkan listrik lebih besar, tidak sekadar menyalakan lampu sepeda saat bergerak pada malam hari.

Adalah Median Wahyu Utomo (28), pemuda kreatif yang mampu membuat sepeda yang bisa menghasilkan tenaga listrik cukup besar. Meski bertempat tinggal di desa terpencil, Median cukup kreatif. Sepeda onthel yang dirancangnya bisa menghasilkan listrik untuk mengisi aki, baterai, dan dinamo ampere.

Biaya membuat sepeda yang bisa menghasilkan listrik relatif lebih murah dibandingkan solar sel. Biayanya sekitar Rp 3 juta. "Karena lebih murah, saya mencobanya dan ternyata berhasil karena tenaga listrik yang dihasilkan cukup besar," ujar Median, Selasa (31/5/2011).

Anak pasangan Redjono (54) dan Evi Dwi Pujiastuti (50) ini mengaku bahan yang digunakan untuk membuat sepeda penghasil listrik cukup sederhana. Bahannya meliputi sasis sepeda, gear sepeda tiga set depan dan belakang, rantai sepeda, dinamo ampere, lampu, dan sakelar.

Sepeda yang diciptakannya memanfaatkan putaran roda sepeda yang bisa menggerakkan dinamo ampere sehingga menghasilkan tenaga listrik cukup besar. Putaran roda sebanyak 650 rpm mampu menghasilkan putaran dinamo ampere sebanyak 6.500 rpm. Tenaga sebesar itu bisa menghasilkan listrik untuk mengisi aki mobil.

"Tenaga yang dihasilkan lumayan bisa untuk mengisi aki mobil dan aki lainnya," ujar Median.

Median mengatakan, ide membuat sepeda penghasil listrik bermula ketika dia melihat sepeda gunung yang menggunakan banyak gear. Alumnus Jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini bercita-cita hasil kreasinya bisa digunakan untuk desa-desa terpencil yang belum teraliri listrik PLN.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/05/31/18043134/Sepeda.Pembangkit.Listrik.ala.Kendal

Bikini Panel Surya, Fungsional dan Seksi



Bikini panel surya ciptaan Andrew Schneider

KOMPAS.com - Andrew Schneider, desainer asal New York, Amerika Serikat, menciptakan bikini panel surya. Apa tujuannya? Salah satunya untuk membantu bila MP3 Player, ponsel ataupun kamera kehabisan baterai saat si pengguna tengah berjemur dan bermalas-malasan dengan bikininya.

Untuk menciptakan satu bikini ini, Schneider menghabiskan 80 jam. Ia menggunakan 40 bahan serupa kertas yang fleksibel, dilengkapi panel surya dan benang yang mampu menghantarkan listrik. Tentu saja, ada colokan USB untuk menghubungkan ke alat yang hendak di-charge.

Satu bikini panel surya dijual dengan harga 120 poundsterling. Scheider mengatakan, walaupun bikini ini digunakan untuk men-charge, tapi juga tetap bisa dipakai berenang. "Anda hanya perlu mengeringkannya sebelum menghubungkan (ke peralatan)," ungkap Scheider.

Selain itu, Scheider mengatakan bahwa pengguna tak perlu takut merasakan sengatan listrik saat memakainya. "Anda tak akan merasakan aliran listriknya," tegas Scheider. Entah kapan Scheider berencana membuat pakaian serupa untuk pria.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/06/03/10344275/Bikini.Panel.Surya.Fungsional.dan.Seksi

Minggu, 29 Mei 2011

Jakarta Memang Punya Potensi Gempa 8,7SR



Ribuan kendaraan dari dua arah terjebak kemacetan di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (21/4/2011). Kemacetan di Jakarta semakin parah jika menjelang libur panjang akhir pekan.

JAKARTA, KOMPAS.com — Staf Khusus Kepresidenan Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief, Minggu (15/5/2011), menyatakan, Jakarta memiliki potensi gempa 8,7 skala richter (SR). Potensi gempa, yang sebenarnya bukan isu baru, bersumber dari aktivitas seismik di wilayah Selat Sunda.

Menanggapi hal tersebut, peneliti gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawijaya, mengatakan, "Potensi itu memang ada. Kekuatannya bisa seperti yang dikatakan, 8,7 skala Richter. Tetapi masih perlu dikaji, apakah bisa kurang dari itu atau bahkan lebih."

Danny mengatakan, potensi kekuatan gempa tersebut bisa diperkirakan dengan melihat dimensi zona subduksi. "Kekuatan gempa itu, kan, berbanding lurus dengan sumber gempa, dimensi zona subduksi. Dari situ kami bisa transfer dengan formula tertentu sehingga mendapatkan potensi gempanya," kata Danny ketika dihubungi, Selasa (17/5/2011).

Potensi gempa di Selat Sunda bisa terjadi sebab wilayah itu berada di atas zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia serta zona transisi subduksi miring di barat Sumatera dengan subduksi tegak di selatan Jawa. Gempa bisa dipicu oleh pelepasan energi dari pergerakan lempeng Indo-Australia ke utara dengan kecepatan 6 cm/tahun.

Menurut rekaman selama ini, Danny mengatakan, gempa berkekuatan kecil sebenarnya sering terjadi di wilayah Selat Sunda, tetapi tidak dengan gempa berkekuatan besar. Ia tak menampik kemungkinan bahwa gempa besar bisa terjadi akibat aktivitas seismik di wilayah ini meski waktunya tidak bisa diperkirakan.

Danny mengungkapkan, yang perlu dilakukan sekarang adalah keseriusan dalam mendata. Menurut dia, penelitian potensi gempa di Selat Sunda hingga saat ini masih minim. Bahkan, bila dibandingkan dengan penelitian kegempaan di Sumatera, penelitian di Selat Sunda belum ada apa-apanya.

Berkaitan dengan potensi gempa ini, Danny menuturkan bahwa Jakarta perlu melakukan langkah antisipasi. "Ini karena di Jakarta, kan, banyak aset dan teknologi. Misalnya kalau gedung pusat cyber itu rusak, ini akan memengaruhi seluruh Indonesia. Belum lagi, misalnya, sektor perbankan dan lainnya."

Danny menambahkan perlunya persiapan di tingkat masyarakat. "Persiapan di masyarakat juga perlu. Misalnya, di Padang, kan, sudah pernah terjadi, masyarakat diajak siap. Tetapi bagaimana di Jakarta? Ini harus juga dilakukan." Di samping itu, bangunan tahan gempa dan sistem evakuasi di gedung ketika terjadi gempa juga harus diperhatikan.

Sejauh ini catatan gempa besar di Jakarta masih minim. "Ada catatan dalam buku Hanna (Willard A Hanna-Hikayat Jakarta) bahwa gempa besar pernah terjadi tahun 1699 yang mengakibatkan kerusakan parah. Namun, belum diketahui apakah gempa itu bersumber dari wilayah Selat Sunda," kata Danny.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/05/17/14060896/Jakarta.Memang.Punya.Potensi.Gempa.8.7SR

Listrik dari Gelombang Laut Menjanjikan



Kelompok nelayan tradisional yang menangkap ikan dengan tombak di Uma Rai, Pulau Pura, Alor, Nusa Tenggara Timur.

KOMPAS.com — Gelombang laut dan bandul lonceng menjadi inspirasi Zamrisyaf. Periset pada Divisi Penelitian dan Pengembangan PT PLN (Persero) ini merancang pembangkit listrik dengan energi gelombang laut yang menggerakkan bandul, kemudian diubah menjadi energi penggerak roda gila dan turbin listrik.

"Teknologi ini sudah mendapatkan hak paten dan siap dikomersialkan," kata Zamrisyaf, Kamis (19/5/2011) di Jakarta. Zamrisyaf mendaftarkan teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut-sistem bandulan (PLTGL-SB) untuk mendapatkan paten sejak tahun 2002.

Awalnya, Zamrisyaf menekuni bidang pembangkit listrik mikrohidro. Kemudian, suatu perjalanan dengan kapal mendatangkan inspirasi baginya untuk merancang PLTGL-SB. Pada perjalanan itu, kapal diterpa badai dengan gelombang laut tinggi. Kapal berayun-ayun. Lonceng kapal pun berdentang. Zamrisyaf menyimak rumah lonceng beradu dengan bandulannya.

"Gelombang laut memiliki energi yang diteruskan bandulan lonceng. Bandulan lonceng menghasilkan energi bunyi, tetapi bandulan pada PLTGL-SB rancangan saya menghasilkan listrik," kata Zamrisyaf. Ia mengutip hukum kekekalan energi bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi diubah.

Zamrisyaf mengubah energi gelombang laut menjadi energi listrik melalui perantara energi gerak bandulan yang menjadi penggerak roda gila. Pada akhirnya, roda gila menggerakkan turbin atau dinamo yang berputar dan menghasilkan listrik. (Nawa Tunggal)

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/05/20/14243145/Listrik.dari.Gelombang.Laut.Menjanjikan

Apa Rahasia Umur Panjang Orang Yahudi?



KOMPAS.com — Para ilmuwan akan mempelajari sel punca orang Yahudi yang memiliki garis keturunan Eropa Timur. Upaya itu dilakukan untuk mengungkap rahasia panjang umur mereka yang kebanyakan berusia lebih dari 100 tahun meski mereka mengonsumsi alkohol, makanan berlemak, dan merokok.

Untuk mencapai tujuan tersebut, para ilmuwan di Cornell Medical College, New York, Amerika Serikat, akan mempelajari sel punca selusin Yahudi Ashkenazi yang pernah mengalami penganiayaan berat, yang berasal dari Rusia. Riset sel punca akan dilakukan pada sel jantung, paru-paru, hati, dan sel lainnya.

Dr Todd Evans, ilmuwan yang memimpin studi itu, mengakui kekagumannya terhadap "sel panjang umur" yang bisa mengusir serangan jantung, kanker, dan penyakit yang mengancam jiwa lainnya. Padahal, "Mereka panjang umur bukan karena melakoni gaya hidup sehat," katanya. Ia pun yakin kekebalan itu berkaitan dengan sel punca.

Dr Evans bersama timnya akan mengekstrak sel punca dari darah orang Yahudi yang sudah lanjut usia. Kemudian mereka akan mengubahnya menjadi sel organ vital yang akan memanfaatkan sel sehat tersebut. Sel itu nantinya akan menjalani stres tes yang dilanjutkan dengan pengamatan secara teliti. Hasil tes ini masih memerlukan waktu cukup lama untuk dikaji dengan hati-hati hingga sebuah kesimpulan dicapai. Meski begitu, studi ini bisa menjadi awal untuk mengungkap rahasia panjang umur. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/05/25/19274796/Apa.Rahasia.Umur.Panjang.Orang.Yahudi

Peneliti Dunia Bahas Lumpur Lapindo



Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA, KOMPAS.com — Sekitar 17 peneliti terkemuka dunia berkumpul di Surabaya untuk membahas bencana lumpur Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (26/5/2011). Mereka mencari penyelesaian efektif dalam menanggulangi dampak jangka panjang bencana yang sudah memasuki tahun kelima itu.

Pertemuan yang difasilitasi LSM dari Australia, Humanitus Fondation, itu berlangsung selama dua hari sejak Rabu (25/5/2011) kemarin. Pada hari pertama, rombongan peneliti sempat berkunjung ke lokasi bencana lumpur di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.

Menurut Direktur Eksekutif Humanitus Jeffrey Richards, hingga lima tahun berjalan, para peneliti belum sepaham mengenai penyebab bencana lumpur Sidoarjo. "Penelitian terbaru oleh ilmuwan Indonesia, Australia, Inggris, Amerika, Rusia, dan Jepang meyakini bahwa lumpur Sidoarjo disebabkan aktivitas seismik atau gerakan lempengan tektonik," ungkapnya.

Sementara itu, Profesor Wataru Tanikawa dari Japanese Research Institut mengatakan, munculnya gunung lumpur itu terjadi karena mekanisme tekanan yang berlebihan pada permukaan tanah akibat pengeboran.

Bahkan, ilmuwan dari University of California, Berkeley, memprediksi dampak lumpur Sidoarjo akan berlangsung hingga 80 tahun ke depan. Jeffrey berharap, badan otorita yang ditunjuk pemerintah bersama pihak swasta dapat mendukung penelitian lebih jauh untuk kepentingan penanggulangan dampak lumpur, serta untuk program pembangunan ekonomi yang menguntungkan warga korban lumpur.

Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2011/05/26/18422660/Peneliti.Dunia.Bahas.Lumpur.Lapindo